Sunday, January 6, 2019

Bolehkah Mempekerjakan Orang Lain Dalam Keadaan Mudharabah?

Kutaraja.com Portal Ispiratif - Bolehkah Mempekerjakan Orang Lain Dalam Mudharabah?

Dalam kerja sama untuk hasil, pengelola mengundang orang lain untuk ikut bekerja digaji. Nah, bolehkah diterima ini diambil dari modal? Shukron ...

Jawab:
Bismillah adalah shalatu adalah salamu 'ala Rasulillah, wa ba'du,

Dalam akad mudharabah (kerja sama mengembangkan usaha dagang), ada 2 pihak sebagai subjek:

  • [1] Shohibul Mal (pemilik modal)
  • [2] Mudharib (Pengelola modal)

Diberikan shohibul mal dalam akad ini adalah modal yang dia berikan. Sementara itu, mudharib adalah kerja yang dia lakukan dalam modal.

Karena terkait inilah, masing-masing memiliki hak untuk mendapatkan keuntungan, yang diharapkan masing-masing juga memiliki

Untuk menyetujui, jika berpartisipasi ini tidak ada, maka masing-masing tidak memiliki hak untuk mendapatkan keuntungan. Misalnya, mudharib tidak mau bekerja, tapi semua dia limpahkan ke orang lain yang mengerjakannya, kemudian menerima orang yang bekerja itu diambilkan dari modal.





Hasan Abdul Ghani dalam risalahnya - al-Ahkam al-Fiqhiyah al-Muta'alliqah bi Aqd al-Mudharabah - merujuk pada untuk mencari kerja apa yang meminta bantuan orang lain, dirinci menjadi 2:

[1] Kerja yang tidak mungkin dilakukan mudharib sendiri. Baik karena ketidak-mampuannya mengaturnya atau karena faktor lain, misalnya jika dapat menyelesaikan mudharib bisa menghematkan mudharabah.

Dalam hal ini, mudharib dapat digunakan orang lain, dan upahnya diambil sebagai biaya operasional mudharabah.

[2] Kerja yang sangat mungkin dilakukan mudharib, sehingga tidak perlu bantuan orang lain, dalam hal ini mudharib tidak dapat dilakukan orang lain dan dibutuhkan sebagai biaya operasional mudharabah.

Karena bagi hasil yang menjadi peluang bagi mudharib adalah ganti dari kerja yang wajib dilakukan mudharib.

Diperlukan jika mudharib tetap milik orang lain, biaya operasional dialokasikan untuk uang pribadinya dan BUKAN pada modal mudharabah.

Dan ukuran berat dan tidaknya pekerjaan semacam ini, kembali ke urf (tradisi) yang berlaku di masyarakat.

Dalam hal ini berlaku kaidah,

العادة محكَّمة

Adat dan kebiasaan masyarakat menjadi sasaran dalam perjanjian hukum.

Selanjutnya, dibayar untuk orang yang dipekerjakan oleh mudharib, jika memang diperlukan, dapat diambil sebagai biaya operasional. Dan biaya operasional untuk pengembangan usaha dalam akad mudharabah dapat diambil dari modal mudharabah. Seperti transportasi, iklan, perjalanan, dan semua kebutuhan nyata untuk pengembangan usaha mudharabah. Standar kebutuhan nyata dalam hal ini kembali ke urf (kebiasaan) yang berlaku di masyarakat. Menyetujui jika ada kesepakatan antara shohibul mal dengan mudharib.

Dan ini masuk dalam ranah teknis, kembali ke tradisi yang diperlukan di masyarakat atau persetujuan yan dibuat bersama.

Sementara itu, biaya yang tidak termasuk biaya mudharabah, tidak dikenakan biaya untuk modal mudharabah, tetapi ditanggung sendiri oleh mudharib. Seperti nafkah keluarga, konsumsi di luar kerja mudharib, dst.

Demikian Penjelasan Bolehkah Mempekerjakan Orang Lain Dalam Mudharabah?, Allahu a'lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah)