---------------------- Tiga kunci membangun rumah tangga yang bahagia

Advertisement

Tiga kunci membangun rumah tangga yang bahagia

Monday, April 1, 2019


KUTARAJA.COM - Berikut saya ungkapkan tiga kunci bagaimana kita berikhtiar untuk membangun rumah tangga yang bahagia.

1.Niat yang tulus

Niat yang tulus. Niat dalam beribadah itu sangat penting. Kesannya sepele tetapi sangat menentukan. Menikah itu ibadah meskipun kedudukannya sunah dan yang namanya ibadah selalu membawa konsekuensi yang berat dalam pelaksanaannya. Hampir tidak ada ibadah yang bisa dilakukan dengan mudah tanpa ada pembiasaan dan niat yang kuat.

2.Komunikasi dan kejujuran

komunikasi dan kejujuran. Hampir semua masalah yang terjadi dalam rumah tangga itu karena komunikasi dan kejujuran yang tidak terbangun. Kembali ke niat yang tulus karena ibadah pernikahan. Jangan sampai memulai pernikahan dengan kebohongan. Sehingga karena telah sah dalam pernikahan maka kedua pasangan akan menerima apapun risikonya. Jaga dan terus bangunlah komunikasi yang jujur. Jangan ada sedikit pun masalah yang ditutup-tutupi dan disembunyikan. Ingat, istri dan suami setelah menikah menjadi satu jiwa. Kalian berdua harus saling jujur dan menguatkan.

3.Kebahagiaan itu sebuah kualitas hidup

jangan pernah mengukur kebahagiaan dalam rumah tangga dengan uang dan harta dunia lainnya. Kebahagiaan itu sebuah kualitas hidup yang tidak bisa dibeli dengan sebanyak apapun uang. Ini kesalahan yang banyak dilakukan pasangan istri dan suami dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Seolah-olah sebuah rumah tangga akan pasti bahagia kalau punya uang banyak dan harta yang melimpah. Akhirnya hanya karena ingin mendapatkan uang dan harta yang banyak, prinsip dalam rumah tangga yang jauh lebih penting misalnya tentang niat, proses, komitmen, termasuk kebutuhan akan beribadah shalat lima waktu berjemaah, sedekah, dilupakan dan dianggap bukan prioritas.
Sepanjang tiga kunci ini dipegang dan diupayakan maka seberat apapun masalah dan ujian dalam rumah tangga, insha' Allah akan mampu dijalani dengan sabar dan tanpa beban. Karena istri dan suami memahami betul bahwa rumah tangga itu sebuah perjalanan panjang, kesempatan bagi keduanya untuk belajar memupuk kedewasaan, melatih diri untuk bersikap rendah hati, dan tidak mengedepankan emosi ketika ada kekeliruan.
Yang paling bikin saya ‘geli’ adalah sebagian dari kita yang sering kali meremehkan nasihat baik. Katanya, ucapan itu tidak semudah perbuatan. Berbicara baik itu mudah, praktek itu susah. Padahal kita bisa belajar baik, bukan dengan meremehkan nasihat baik, tetapi diri kita yang sebetulnya selama ini belum baik. Jadi kalau mau disalahkan bukan nasihat baiknya tetapi perilaku kita yang belum baik itu.