Membanggakan Pencapaian Diri Sendiri, Hindarkan Dirimu Dari Sikap Ini Dengan Inspirasi Ini.

Dengan kemajuan zaman saat ini, banyak fasilitas yang memudahkan manusia untuk menggapai impiannya. Mulai dari jalan – jalan ke berbagai tempat hingga ke berbagai belahan dunia, sekolah hingga level doktor, memperoleh sertifikat keahlian, menjadi pengusaha sukses, memiliki jabatan dan karir yang mumpuni dan berbagai pencapaian lainnya.


Hal ini tentu membanggakan terutama ketika impian tersebut membawa kebahagiaan bagi mereka yang berhasil mencapainya.

Di sisi lain, kehadiran media sosial dengan berbagai aplikasinya menghadirkan sebuah fenomena baru. Fenomena yang memudahkan manusia untuk terhubung dengan mudahnya dengan manusia lain.

Bahkan di wilayah yang belum pernah didatangi. Saling berkirim kabar, memperlihatkan kabar, lalu bergeser menjadi memperlihatkan pencapaian diri.


Hal ini pun bisa terjadi dalam kontak secara langsung. Terdapat segelintir manusia yang sangat bangga untuk memperlihatkan pencapaian dirinya.

Cerita yang bergulir adalah tentang dirinya, atau keluarganya dan ‘kehebatan – kehebatan’ yang telah mereka gapai.

Bahkan sampai pada tahap mereka hanya berbicara tentang diri mereka sendiri dan enggan untuk mengetahui bagaimana kondisi lawan bicaranya.

Mereka sangat senang manakala lawan bicaranya mau mendengarkan cerita – cerita tentang diri mereka. Atau melontarkan pujian. Orang – orang yang haus pengakuan ini merasa kebahagiaannya berasal dari pengakuan atas eksistensi dirinya.

Sifat egosentris ini jika dibiarkan akan membuat mereka yang melakukannya menjadi sombong. Mereka merasa kerja kerasnyalah yang membuat mereka mencapai apa yang di
banggakannya tersebut. Mereka merasa hebat dan terus terbuai dalam pusaran – pusaran kebanggaan yang mereka ciptakan.


Sesungguhnya segala sesuatu terjadi atas izin Tuhan Yang Maha Kuasa. Tidak ada satupun yang luput dari kehendak-Nya.

Jika Dia berkehendak, dalam sekejap, nasib seorang manusia bisa berubah. Jangan pernah merasa bahwa kita hebat dan berhak merasa sombong atas sesuatu yang kita pikir sebagai pencapaian atas kerja keras kita.

Sesungguhnya, semua potensi yang dititipkan kepada kita yang kemudian membawa kita ke sebuah level pencapaian haruslah dimanfaatkan untuk kebaikan. Kebaikan yang bermanfaat bagi sesama.


Dan semakin sukses seseorang, semakin ia bersyukur dan semakin ia merasa bahwa dirinya bukanlah apa – apa tanpa kehendak dari Tuhan Yang Maha Penyayang.

Dan apa – apa yang dititipkan kepadanya bisa sewaktu – waktu diambil darinya sehingga kesombongan tersebut sungguh tiada berguna dan hanya menjerumuskannya menjadi seseorang yang tidak hanya tak disukai di lingkungan pergaulan, tapi yang paling mengkhawatirkan adalah kenyataan bahwa dia kemudian menjadi sombong, merasa diri hebat dan mengabaikan Tuhan sebagai pemilik segala sesuatu yang berkuasa atas segala sesuatu.
Loading...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel