Ratusan Ikan Mendadak Mati Terdampar Di Tepi Pantai, Besoknya Terjadi Gempa Susulan 5,2 SR

KUTARAJA.COM - Fenomena ikan dan biota mati di Maluku terjadi lagi.

Warga di Desa Lelingulan, Kecamatan Tanimbar Utara, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku digegerkan dengan fenomena alam terdamparnya ratusan ikan serta berbagai jenis biota laut lainnya mati di pantai desa tersebut.

Ratusan Ikan Mendadak Mati Terdampar Di Tepi Pantai, Besoknya Terjadi Gempa Susuan 5,2 SR

Kejadian yang terjadi di tengah situasi Maluku yang terus dilanda gempa susulan itu membuat warga di wilayah tersebut menjadi resah.

Warga pun ada yang mulai menghubung-hubungkan fenomena alam tersebut dengan kejadian bencana.

Herman Barutresia, salah seorang warga Tanimbar Utara yang dikonfirmasi Kompas.com, Minggu (13/10/2019) mengaku, sejak ikan-ikan dan biota laut itu ditemukan mati terdampar, warga mulai dihantui rasa khawatir dan cemas.

Sebab, sejumlah warga percaya kejadian itu merupakan tanda-tanda alam yang tidak biasa.

“Kejadiannya itu baru Sabtu kemarin, cuma masalahnya kita khawatir karena beredar informasi kejadian itu berkaitan dengan gejala alam,” ujarnya.

BACA: 



Dia mengaku kondisi tersebut membuat warga semakin resah karena banyak sekali beredar informasi setelah kejadian itu akan terjadi sesuatu di di wilayah tersebut.

“Isu beredar rupa-rupa macam, bikin kita khawatir dan takut, tapi kita percaya pada Tuhan saja,”akunya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kepulauan Tanimbar, Bruno Layan yang dikonfirmasi Kompas.com secara terpisah membenarkan jika ada banyak ikan dan biota laut yang mati terdampar di pantai dea tersebut.

“Kejadiannya di Desa Lelenluan, Kecamatan Tanimbar Utara, sampai sejauh ini baru di satu desa saja yang ditemukan ikan dan biota laut mati,” kata Bruno.

Dia mengungkapkan selain ikan permukaan, banyak ikan dasar laut yang memiliki fisik yang unik juga ikut mati terdampar termasuk jenis biota laut lain di pantai desa tersebut.

”Jadi ada ikan permukaan, ikan yang di pertengahan laut sampai ikan di dasar mati semua, ada juga belut juga ikan dasar yang unik,” katanya.

Terkait fenomena alam itu, Bruno mengakui bahwa saat ini warga menjadi sangat resah, meski begitu dia meminta agar warga tetap tenang jangan panik.

Bruno mengaku dia telah menyampaikan informasi tersebut ke BPBD Maluku dan meminta kejadian itu agar dapat segera diteliti oleh pihak berwenang dalam hal ini LIPI agar fenomena itu dapat segera disimpulkan.

“Kami mengimbau warga tetap tenang, dan kepada orang-orang yang sok pintar agar tidak menyebar informasi yang menakut-nakuti masyarakat, sebab yang berhak mengeluarkan pernyataan yang bisa dipertanggung jawabkan itu dari pihak berwenang,”ungkapnya.

Warga Maluku trauma dengan peristiwa ikan mati.

Seminggu lebih setelah ribuan ikan mati misterius di Laut Ambon, gempa tektonik bermagnitudo 6,4 mengguncang wilayah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Minggu (22/9/2019).

Setelah itu, ikan mati raksasa mola-mola juga terjadi jelang gempa susulan 5,2 SR, Kamis (10/10/2019) siang.

Dari informasi yang diterima Kompas.com lokasi penemuan terdamparnya ikan berukuran besar tersebut berada di pesisir pantai Desa Lamahang, Kecamatan Waplau, dan di pantai Desa Hatawano, Kabupaten Buru, Maluku.

Salah satu warga Desa Lamahang, Syarif Kaimudin yang dihubungi dari Ambon mengatakan, ikan yang ditemukan terdampar di pesisir pantai desanya itu sangat besar.

Saat ditemukan ikan tersebut sudah dalam keadaan mati dan sempat menghebohkan warga.

“Mati terdampar Sabtu dua hari kemarin, ukurannya itu sekitar 3 meter panjangnya,” kata Syarif, kepada Kompas.com via pesan pendek, Senin (7/10/2019).

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ambon, memastikan kasus terdamparnya ikan dan biota laut di pantai Desa Lelingulan, Kecamatan Tanimbar Utara, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku tidak berhubungan dengan musibah gempa.

Kepala LIPI Ambon Nugroho Dwi Hananto mengatakan, fenomena ikan dan biota laut yang mati terdampar di pantai desa tersebut tidak perlu dihubung-hubungkan dengan bencana apalagi hingga menduga-duga kejadian itu menjadi pertanda akan terjadi musibah.

“Yang paling penting itu tidak ada pengaruhnya dan tidak berhubungan dengan gempa,” kata Nugroho kepada Kompas.com saat dikonfirmasi via telepon seluler, Minggu (13/10/2019).

Dia menjelaskan, menghubungkan fenomena ikan terdampar di desa tersebut dengan kejadian bencana yang akan terjadi hanya akan menimbulkan kepanikan di masyarakat dan hal itu akan membuat warga semakin resah.

Menurutnya ada berbagai kemungkinan yang bisa menyebabkan ikan-ikan dan biota laut itu mati terdampar, bisa saja karena upwelling atau sebuah fenomena di mana air laut yang lebih dingin dan bermassa jenis lebih besar bergerak dari dasar laut ke permukaan akibat pergerakan angin diatasnya.

Atau, lanjut Nugroho ada fenomena alam lainnya dibawah laut yang menyebabkan terjadinya perubahan suhu atau gejolak dibawah permukaan air laut sehingga arus air berbalik ke atas dengan cepat dan membuat ikan menjadi mati.

“Itu bisa saja terjadi, jadi jangan kita hubung-hubungkan dengan gempa ini yang penting, soalnya kalau kita lihat di Ambon ada apa-apa disebarkan kan orang panik naik ke gunung lagi ini yang tidak boleh,” katanya.

Terkait fenomena tersebut, Nugroho menyebut, pihaknya akan melakukan penelitian di desa tersebut untuk memastikan apa penyebab hingga ikan-ikan dan biota laut di pantai desa tersebut mati terdampar.

“Iya kita akan teliti karena itu tugas kita cuma kalau Tanimbar kita butuh waktu ke sana karena jauh dari Ambon ke sana.

Tapi sekali lagi kejadian itu tidak ada kaitan dengan gempa, jadi masyarakat tidak perlu panik dan mengubung-hubungkan kejadian itu dengan gempa,” katanya.

Artikel ini telah tayang di tribun-medan.com dengan judul Setelah Ikan Raksasa 3 Meter Mati, Kini Belut dan Ular Laut pun Mati, Warga Ambon Maluku Resah, https://medan.tribunnews.com/2019/10/13/setelah-ikan-raksasa-3-meter-mati-kini-belut-dan-ular-laut-pun-mati-warga-ambon-maluku-resah?page=all.

BACA: 

Loading...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel